anthurium

anthurium
generasi muda anthurium terus tumbuh tak terbendung

Tawon (Hymenoptera)

05.12 Edit This 0 Comments »
Ditulis ulang oleh Sumi dari buku PUSTAKA TIME LIFE
berjudul Serangga Peter Farb

Sekitar satu minggu yang lalu trans 7 dalam acara ‘Cita-citaku’ menceritakan perjalanan sekelompok anak dalam mencari tahu asal muasal kain sutera sehingga mereka bertemu seseorang yang dapat menjelaskan dengan melibatkan mereka pada proses budidaya ulat sutera secara bertahap. Betapa besar kegembiraan anak-anak yang dikejutkan oleh pertunjukan kecerdasan yang ajaib ini! Tetapi bukan hanya ulat sutera saja yang memikat hati manusia, memang manusia di planet ini telah lama hidup bersama makhluk-makhluk kecil yang bernama serangga ini, namun ada banyak bagian kehidupannya yang masih menjadi teka-teki dan mengesankan hati manusia karena kemampuan dan kearifannya seolah tidak seimbang dengan ukuran tubuhnya. Banyak hal yang dikerjakan manusia dapat pula dilakukan serangga secara efisien, ada serangga pencocok dan penuai tanaman, ada serangga ‘pemerah’ cairan tubuh hewan lain, ada serangga arsitek bangunan, ada tukang kayu, pembuat kertas, penjarah, budak dan wiraswasta, beberapa koloni hidup dalam organisasi social yang kompleks dan strata social l yang rapi dalam pemerintahannya. Yang lebih tinggi kedudukannya pada skala social serangga adalah tawon endas.

Tawon
Serangga termasuk filum arthropoda pada kelas insecta. Ciri khasnya tubuh terdiri atas kepala, toraks dan abdomen. Bangsa serangga terbesar ketiga adalah Hymenoptera (bersayap selaput): tawon, lebah dan semut. Tawon merupakan serangga yang menguntungkan manusia dalam membantu penyerbukan tunbuhan, lebih efisien membalikkan tanah daripada cacing tanah, bahkan menyediakan bahan makanan langsung berupa madu. Dan yang terpenting adalah sebagai pengendali populasi serangga karena banyak tawon memangsa serangga lainnya.

Cobalah sekali waktu perhatikan ulah seekor tawon. Tawon itu tidak perlu repot-repot mengamati kawannya atau induknya untuk mengembangkan cara berburu dan membangun sarang dengan pola konstruksi yang sama dengan leluhurnya dulu. Setelah setengah sampai satu jam sarang dari sarang telah selesai dibangun di pojok jendela rumah manusia, lalu tawon pergi mencari mangsa. Korban dibawa pulang langsung menuju sarang yang sudah kering, lalu tawon mulai bertelur, sarang ia tutup rapat-rapat lalu tawon terbang meninggalkan sarangnya. Kelak setelah telur menetas dan larva mungil itu mulai makan dan menjadi dewasa, ia akan keluar berburu sendiri. Namun apabila kita coba kosongkan makanan dari sarangnya, tawon tidak akan punya inisiatif untuk mengisinya kembali. Perilaku yang terlestari ini disebut instinc atau naluri.Urutan langkah yang dilakukan tawon adalah sebagai hasil interaksi kompleks antara perangsang dan refleks.
Keberhasilan tawon dan serangga pada umumnya dalam menghadapi perjuangan tanpa henti demi pelestarian jenisnya, terbantu oleh potensi diri yang berupa kemampuan terbang, daya penyesuaian diri, kerangka luar, kecilnya tubuh, metamorfosis dan system reproduksi yang unik. Kodrat yang paling mencolok adalah kemampuan terbangnya. Dengan sayap, serangga mampu menyebar ke seluruh penjuru dunia.

Semua serangga memulai kehidupannya sebagai telur. Biasanya telur hanya berkembang bila dibuahi oleh sel sperma jantan. Tetapi banyak jenis lebah, tawon, semut dan serangga lain tidak membutuhkan pejantan.
Tawon endas kedudukannya lebih tinggi pada skala social serangga. Betinanya yang dapat bertahan hidup selama musim dingin adalah tawon ratu dengan ukuran tubuh terbesar. Dari ruas abdomen ratu keluar lilin untuk membangun kantung madu dan mengisinya penuh dengan madu bunga kemudian ratu membuat sel, menaruh bola tepung sari di dalamnya dan bertelur . Keturunan pertamanya akan berkembang sebagai tawon pekerja kecil yang waktu keluarnya dari kepompong dibantu oleh ratu tawon. Sekali di luar, tawon pekerja ini membebaskanratu dari segala pekerjaan selain bertelur. Sementara pekerja mengambil alih pembangunan dan perawatan dan perawatan sarang, sel-sel pengeraman semakin bertambah jumlahnya dan segera membentuk sarang madu. Sel-sel ini tidak digunakan untuk pengeraman kedua kalinya; pekerja menyelubunginya dengan lilin, menjadikannya gudang madu bunga dan tepung sari. Penduduk kota tawon endas tidak pernah lebih banyak daripada penduduk kota lebah madu, koloni tawon endas paling banyak hanya berkissar antara 1000 sampai 2000 ekor, kebanyakan hanya sekitar beberapa ratus ekor saja.

Arsitektur tawon

Keanekaragaman terbesar dalam pembuatan bangunan ditemukan pada tawon. Serangga ini telah menyempurnakan metode pembangunan tempat tinggal dan tempat pengeraman dari kertas dan dari Lumpur. Pembuatan kertas merupakan pekerjaan mudah bagi tawon. Pertama-tama dihimpunnya serat kayu lapuk, dahan tetumbuhan atau kertas dan kardus buatan manusia; semuanya lalu dikunyah sampai lumat. Setelah dicampur dengan air liur, hasilnya ialah bubur atau semacam papier mache yang biasanya berubah menjadi kertas abu-abu kuat bila sudah kering. Tawon kuning membangun sarang kertas di bawah tanah, tetapi bola kertas besar yang tergantung pada dahan pohon dan tepi atap dibuat oleh sejenis tawon hornet. Sarangnya terdiri dari dinding sel mendatar; selnya menghadap ke bawah, dan seluruh dinding sel tadi terbungkus dinding luar dari kertas. Saetiap kali dinding sel ditambah satu lapis di bawah atau sejajar dinding sel pertamanya- hornet pun membungkus seluruh sarang dengan lapisan luar dari kertas.

Lokasi pembangunan sarang hornet tampaknya dipilih tanpa mengindahkan cocok atau tidaknya. Sarangnya kerap kali terdapat di tempat yang mudah dilanda angin dan hujan, tak terlindung terhadap pemangsa, atau dibangun ditempat sempit tanpa ruang untuk perluasan. Hornet dewasa akan meninggalkan bangunan kompleks beserta larva di dalamnya, untuk kembali ke tempat lama dan mulai membangun lagi sarang baru di tempat itu.

Sarang kertas juga dibangun oleh tawon polites. Tawon biasa yang ramping dan berpinggang langsing ini biasanya berwarna hitam, atau kuning dan hitam. Di dekat bangunan manusia jumlahnya begitu berlimpah-limpah. Polites tergolong tawon paling lembut, karena hanya menyengat bila diganggu. Sarang kertas kecil-kecil Polites bergantungan pada tepi atap rumah dan garasi. Di tepi atap tawon membangun fondasi dengan menumpahkan bahan perekat yang dioleskan di tempat penempelan sarang. Di sini ratu tawon akan membuat tali kertas menggelantung kira-kira sepanjang 13 milimeter. Ujungnya diolesi bahan perekat yang juga digunakan untuk membentuk fondasi. Kelompok pertama sel vertical yang bersama-sama membentuk satu dinding sel horizontal dilekatkan pada tali. Telur direkat satu-satu dalam tiap sel, dan larva yang sedang mengalami pertumbuhannya bergantungan ke bawah.

Meskipun bahan bangunan yang digunaka hanya papier mache, sarangnya sangat kuat. Pernah ditemukan, ada sebuah sarang yang tahan tarikan seberat 3,5kg, biarpun bobot seluruh sarang beserta larvanya tidak lebih dari 113 gram saja. Tiap potongan bahan bangunan yang mencapai sarang dimasukkan satu persatu ke dalam rahang ratu. Pada waktu larvanya menetas, tawon menangkap serangga, mencabik-cabik dan memberikan pada anaknya. Selagi larva tumbuh, dinding selnya diperpanjang dengan tambahan kertas.
Polites mula-mula serba sendiri lalu ia melakukan segala kewajibannya hinggapopulasinya terus berkembang. Organisasi social Polites tidak dijalin oleh emosi dan etika seperti pada masyarakat manusia, melainkan oleh persenyawaan kimiawi. Sarang polsistes biasanya tak terlindung kulit dari kertas seperti sarang hornet. Pada siang hari sarang polistes menjadi karena sinar matahari dan di malam hari menjadi dingin bila sinar matahari langsung mengenai sarang dan menimbulkan bahaya kepanasan maka tawon polistes mempunyai dua cara efektif untuk mendinginkannya. Tawon itu mengipasinya keras-keras dengan sayap dan membawa masuk tetesan air, yang mungkin berguna untuk mendinginkan sel-sel pendinginan sarang secara alamiah pada malam hari, sebaliknya, agaknya untuk sebagian ikut menentukan apakah tawon yang belum dewasa akan menjadi tawon pekerja atau ratu muda. Percobaan menunjukkan tawon pekerja dewasa diusahakan tetap hangat, larvanya akan menjadi ratu. Anehnya, perubahan suhu rupanya mengakibatkan perubahan pada jalannya fungsi tubuh tawon pekerja dewasa. Akibatnya perubahan itu laluditeruskan ke larva, dan mungkin pula karena adanya beberapa perubahan di dalam sekresi yang dicampurkan pada makanan larva.

Tawon sarang Lumpur seperti diketahui dari namanya menggunakan Lumpur sebagai bahan mentah arsitekturnya. Beberapa di antara tawon ini membangun sejumlah pipa panjang yang berdempetan sehingga sarang itu mirip dengan orgel. Tiap pipa terbagi-bagi menjadi sejumlah bilik. Tawon itu membekali tiap bilik dengan laba-laba yang dilumpuhkan dan meletakkan butir telurnya. Tetapi tidak semua tawon yang membangun dengan lumpur membuat pipa. Di ranting pohon dan tangkai berkembang, sering ada kendi kecil. Hasil karya tawon kendil sangat halus seperti tembikar.

Tawon kendil biasanya hanya mendatangi satu sumber lumpur bahan kendilnya. Namun kadang kala ditemukan pula kendil berwarna ganda, yang merupakan hasil penggunaan dua macam Lumpur. Biarpun tawon itu harus bolak-balik mendapatkan persediaan bahan secukupnya, namun kendil dapat dibuat dalam tiga sampai empat jam. Tiap kendil merupakan sebuah bola yang hampir sempurna, tiap kendil diberi perbekalan berupa ulat yang telah dilumpuhkan dan tawon bertelur sebutir digantungkan di dalam kendil dengan seutas benang sutera. Setelah itu kendil ditutup.

Keistimewaan "mata" lebah

04.59 Edit This 0 Comments »
Dua macam indra manusia berupa penglihatan dan pendengaran, tidak terdapat pada serangga. Struktur mata serangga berupa banyak facet bersegi enam. Jumlah mata mini ini ada 28000 pada serangga jenis sibar-sibar, 4000 pada lalat rumah, enam pada beberapa semut yang hidup di bawah tanah. Tiap mata merupakan miniatur system penglihatan, yang terdiri dari satu lensa kecil, system penerus cahaya dan sel retina yang peka. Tiap mata terpisah sama sekali dari mata mini di dekatnya dan tidak satupun yang arahnya tepat sama yang lain. Satu mata mini hanya mencatat satu kesan yang merupakan fragmen dari seluruh pandangan. Semua mata mini bergabungbagaikan keeping-keping mossaik dan akan membentyuk gambar lengkap dari banyak rangsangan yang intensitasnya berbeda.

Serangga tidak dapat menutup mata. Serangga tidur dengan mata terbuka. Mata facet mahir dalam mendeteksi gerakan. Bagi serangga setiap gerakan dapat berarti musuh yang harus dijauhi atau mangsa yang harus ditangkap. Lebah mempunyai mata facet dan mata sederhana. Mata sederhana berfungsi sebagai alat pembantu yang membantu untuk menambah kepekaan mata majemuk terhadap cahaya.

Serangga hidup di dunia warna, tetapi kisaran warna yang dapat ditangkapnya tidak sama dengan kisaran yang tertangkap manusia. Lebah dapat melihat sinar ultraviolet dengan jelas. Kisaran warna serangga inilah yang banyak menentukan pelestarian tumbuhan. Bunga yang banyak diserbuki lebah umumnya berwarna biru, ungu, kuning dan hijau kekuningan yang ada dalam kisaran warna dan daya lihat lebah. Selain itu, banyak bunga yang bagi manusia warnanya redup, tetapi memancarkan sinar ultraviolet cerah yang tak dapat dilihat.
Lebah madu dapat menentukan letak matahari, meskipun langit tertutup awan. Sejumlah ultraviolet dapat menembus awan, dan sinar ultraviolet bagian langit yang terkena matahari selalu sekitar lima persen lebih cerah daripada bagian lain. Perbedaan ini cukup bagi lebah untuk menentukan letak matahari sebagai panduan navigasi.

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

00.28 Edit This 0 Comments »

I. SPESIFIKASI SUBYEK PEMBELAJARAN
Jenjang pendidikan : SMA
Mata pelajaran : Biologi
Materi pokok : Keanekaragaman Hayati
Kelas / semester : X / 2
Kelompok target : Bervisi SETS
Pertemuan ke : 1
Alokasi waktu : 2 X 45’

II. KOMPETENSICAPAIAN DAN INDIKATORNYA

Standar Kompetensi (SK) :
3. Memahami manfaat keanekaragaman hayati

Kompetensi Dasar (KD) Bervisi SETS :
Mendeskripsikan konsep keanekaragaman gen, jenis, ekosistem, melalui kegiatan pengamatan

Indikator Pencapaian Kompetensi
· Mengidentifikasi keanekaragaman gen dan jenis makhluk hidup.
· Merumuskan konsep keseragaman dan keberagaman.
· Mendiskripsi jenis organisme khas daaerah/wilayah.

III. KEGIATAN PEMBELAJARAN

Pendekatan pembelajaran : Bervisi SETS
Bentuk Kegiatan Pembelajaran :

Waktu: 5 menit

Pendahuluan:

Kegiatan guru
Menjelaskan pada siswa tentang apa yang akan mereka lakukan
Membagikan lembar kerja siswa

Kegiatan Siswa:
Bergabung dengan kelompok masing-masing

Waktu: 70 minutes

Kegiatan inti:

Kegiatan guru:

Membimbing siswa saat pengamatan keanekaragaman hayati di lingkungan sekitar sekolah selama 20 menit
Membimbing siswa mengisi lembar kerja
Membimbing siswa melakukan presentasi/ seminar di dalam kelas selama 50 menit

Kegiatan Siswa:

· Menuju ke lingkungan sekitar sekolah
· Bekerjasama dalam kelompok, mencatat hasil pengamatan keanekaragaman hewan dan tumbuhan
· Bekerjasama dalam kelompok untuk mengisi lks secara lengkap dan akurat
· Menuliskan kesimpulann hasil pengamatan di papan tulis
· Menyampaikan secara lisan dan sistematik presentasi hasil diskusi kelompok berdasarkan penyimpulan hasil pengamatan yang dicatat dalam lks


Kegiatan penutup (15’):
- Guru mengajak siswa mengambil kesimpulan berdasarkan hasil observasi di lingkungan sekitar sekolah
- Guru meminta setiap kelompok mengumpulkan laporan hasil observasi

IV. PERANGKAT PEMBELAJARAN

Alat / Bahan
Daerah pengamatan yaitu lingkungan sekitar sekolah di Kabupaten Batang

Sumber Rujukan
- Buku biologi Erlangga, Widya Duta dan Yudistira
- Buku lain yang memuat masalah keanekaragaman hayati
- Website yang memuat informasi keanekaragaman hayati
- Media cetak atau ulasan berita dari media elektronik, yang memuat informasi mengenai keanekaragaman hayati

V. PRODUK PEMBELAJARAN

Sumber Daya Manusia (SDM)
- Siswa memiliki pengetahuan tentang keanekaragaman hayati dan keterhubungkaitan dengan SETS
- Siswa memiliki pengalaman dan pengetahuan tentang keanekaragaman hayati dan pemanfaatannya bagi penduduk sekitar sekolah

Produk Non Sumber Daya Manusia
- Laporan hasil observasi lapangan
- Kumpulan artikel atau informasi dari surat kabar, majalah, berita, buku atau dari internet tentang keanekaragaman hayati

VI. EVALUASI PROGRAM DAN HASIL BELAJAR

Aspek kognitif
- Menguji pemahaman siswa terhadap keanekaragaman gen, jenis dan ekosistem
Aspek Afektif
- Mengobservasi kerjasama siswa, rasa ingin tahu, kemampuan bertanya dalam melakukan wawancara
Aspek psikomotorik
- Mengobservasi kemampuan siswa dalam melakukan pengamatan di lokasi
- Mengobservasi siswa dalam membuat bagan keterhubungkaitan SETS tentang keanekaragaman hayati tingkat gen, jenis dan ekosistem

VII. PENANGGUNG JAWAB

Kepala SMA Guru Mata Pelajaran

PEMBENTUKAN BUAH PARTENOKARPI

22.12 Edit This 0 Comments »
A. Pengertian Partenokarpi
Buah merupakan bagian yang penting dari tanaman karena organ ini merupakan tempat yang sesuai bagi perkembangan, perlindungan, dan penyebaran biji. Pada buah normal, pembentukan buah dimulai dengan adanya proses persarian (polinasi) kepala putik (stigma) oleh serbuk sari (polen) secara sendiri (self pollination) atau oleh bantuan angin, serangga penyerbuk (polinator), dan manusia (cross pollination). Selanjutnya polen ber-kecambah dan membentuk tabung pollen (pollen tube) untuk menca-pai bakal biji (ovule). Peristiwa bertemunya polen (sel jantan) dengan bakal biji (sel telur) di dalam bakal buah (ovary) disebut pembuahan (fertilisasi). Kemudian bakal buah akan membesar dan berkembang menjadi buah bersamaan dengan pembentukan biji. Akhirnya akan dihasilkan buah yang fertil (berbiji). Beberapa jenis tanaman mempunyai kemampuan untuk membentuk buah tanpa melalui proses polinasi dan fertilisasi. Buah yang terbentuk tanpa melalui polinasi dan fertilisasi ini disebut buah partenokarpi. Dan biasanya buah partenokarpi ini tanpa biji (seedless) karena tanpa melalui fertilisasi. Partenokarpi ini kurang menguntungkan bagi program produksi benih/biji, tetapi lebih bermanfaat bagi peningkatan kualitas dan produktivitas buah, khususnya pada jenis tanaman komersial (hortikultura).
Sebagai contoh, pada terung partenokarpi dapat meningkatkan kualitas buah, sedangkan pada Actinidia dapat meningkatkan produktivitas buah dan tidak membutuhkan bantuan serangga penyerbuk (pollinator). Partenokarpi dapat terjadi secara alami (genetik) ataupun buatan (induksi). Partenokarpi alami ada dua tipe, yaitu obligator apabila terjadinya tanpa faktor/pengaruh luar dan fakultatif apabila terjadinya karena ada faktor/pengaruh dari luar/ lingkungan yang tidak sesuai untuk polinasi dan fertilisasi, misalnya suhu terlalu tinggi atau rendah. Sedangkan partenokarpi buatan dapat diinduksi melalui aplikasi zat peng-atur tumbuh (fitohormon) pada kuncup bunga (Schawabe dan Mills, 1981) atau melalui polinasi dengan polen inkompatibel (Tsao, 1980) atau dapat diserbuki dengan polen yang telah diradiasi sinar X (Shozo dan Keita, 1997). Bahkan, kini dengan adanya kemajuan tek-nologi di bidang biologi molekuler partenokarpi dapat diinduksi secara endogen melalui teknik rekayasa genetika, yaitu dengan cara menyi-sipkan gen partenokarpi (pengkode IAA/giberelin) ke dalam genom tanaman target melalui proses transformasi genetik (Barg dan Salts, 1996; Rotino et al., 1996; Li, 1997). Tanaman transgenik yang telah mengandung gen partenokarpi akan mengekspresikan senyawa auksin pada plasenta dan ovule (Rotino et al., 1996) atau giberelin pada polen sebelum polinasi (Tomes et al., 1996a).

B. Proses Pembentukan Partenokarpi
Partenokarpi dapat terjadi secara alami maupun secara buatan.
1. Partenokarmi Alami
Partenokarpi dapat terjadi secara alami (genetik) pada beberapa jenis tanaman saja (terbatas), misalnya pada pisang (triploid), tomat, dan manggis. Partenokarpi dapat dibedakan menjadi dua tipe, yaitu obligator dan fakultatif. Partenokar-pi disebut obligator apabila terjadi secara alami (genetik) tanpa ada-nya pengaruh dari luar. Hal ini da-pat terjadi karena tanaman tersebut secara genetik memiliki gen penye-bab partenokarpi, misalnya pada tanaman pisang yang kebanyakan triploid. Tanaman triploid ini memiliki mekanisme penghambatan perkembangan biji atau embrio sejak awal, sehingga buah yang terbentuk tanpa biji. Sedangkan partenokarpi fakultatif apabila terjadinya karena ada faktor/pengaruh dari luar, mi-salnya pada tanaman tomat dapat terjadi pembentukan buah parteno-karpi pada suhu dingin atau suhu panas.
2. Partenokarpi Buatan
Aplikasi Zat Pengatur Tumbuh Pada awal abad ke-19 telah diketahui bahwa polinasi tanpa fertili-sasi dapat merangsang pembentuk-an buah (Fitting, 1909). Kemudian, ekstrak polen diketahui pula dapat menginduksi pembentukan dan perkembangan buah (Yasuda, 1934). Berikutnya diketahui lagi bahwa auksin dapat menggantikan polinasi dan fertilisasi pada proses pembentukan dan perkembangan buah pada beberapa spesies tanaman (Gustafson, 1942). Percobaan pada tanamanstrawbery, di mana bakal biji yang telah dibuahi (achenes) dapat dihilangkan tanpa merusak bagian reseptakel ternyata buah tetap tumbuh berkembang setelah achenes diganti dengan olesan senyawa lanolin yang berisi auksin (Nitsch, 1950). Lebih lanjut, Nitsch membuktikan bahwa kandungan dan sintesis auksin pada bakal biji (achenes) berlangsung hingga 17 hari setelah pembuahan. Hal ini membuktikan bahwa auksin dibutuhkan selama perkembangan buah. Zat pengatur tumbuh (ZPT) lain, seperti giberelin dan sitokinin juga terbukti dapat menggantikan peran biji dalam perkembangan buah (Schwabe dan Mills, 1981). Namun, untuk efisiensi partenokarpi perlu kombinasi atau pengulangan aplikasi ZPT tersebut. Zat pengatur tumbuh berpengaruh langsung maupun tidak langsung terhadap kandungan auksin (IAA) endogen dalam bakal buah (ovary), baik setelah polinasi dan fertilisasi ataupun setelah aplikasi ZPT dari luar. Kadar auksin selama perkembangan bakal buah berbedabeda untuk setiap tanaman, tetapi umumnya meningkat pada saat 20 hari setelah pembungaan (anthesis) baik pada bunga yang diserbuki atau yang disemprot auksin (Lee etal., 1997). Peningkatan kadar IAA pada bakal buah akan merangsang pertumbuhan dan perkembangan buah pada fase awal pembungaan (Gillapsy et al., 1993). Mekanisme inilah yang mengilhami para ahli bioteknologi pertanian dalam pembentukan buah partenokarpi melalui rekayasa genetika. Manipulasi Ploidi (Alteration in Chromosomes Number) Partenokarpi dapat pula diinduksi secara genetik, yaitu melalui manipulasi jumlah ploidi (kromosom) pada tanaman. Hal ini dapat ditempuh dengan persilangan biasa, misalnya antara tanaman semangka dikotil (sebagai induk jantan/ penyerbuk) dengan tanaman tetraploid (sebagai induk betina) menghasilkan hibrid (F1) triploid yang ternyata dapat menghasilkan buah partenokarpi tanpa biji (seedless). Pada tanaman triploid ini bakal biji (ovule) terhambat sejak awal perkembangannya, sehingga embrio tidak berkembang. Akibatnya tanaman hanya menghasilkan buah tanpa biji dengan integumen yang rudimenter (tidak berkembang) (Kihara, 1951).
Pada beberapa tahun terakhir, beberapa metode telah dicoba dan dikembangkan untuk menghasilkan partenokarpi melalui rekayasa ge-netika tanaman. Pembentukan buah partenokarpi melalui teknik DNA rekombinan dapat ditempuh melalui dua pendekatan, yaitu (1) menghambat perkembangan embrio/biji tanpa mempengaruhi pertumbuhan buah dan (2) ekspresi fitohormon pada bagian ovary/ovule untuk memacu perkembangan buah partenokarpi. Cara pendekatan pertama ditempuh melalui penggunaan gen yang bersifat merusak sel (cytotoxic). Gen ini akan menghasilkan senyawa toksik terhadap sel-sel embrio/ biji, sehingga akan menghambat bahkan merusak perkembangan embrio/biji. Pertumbuhan buah tetap berlangsung, tetapi tidak menghasilkan biji. Sebagai contoh, penggunaan gen barnase yang diisolasi dari bakteri Bacillusamyloliquefaciens (Paddon dan Hartley, 1987; Tomes et al., 1996b) atau kombinasi gen sitotok-sik, misalnya gen iaaM dan iaaH dari bakteri yang mengekspresikan senyawa toksik kadar tinggi terhadap sel-sel embrio/biji. Kombinasi ekspresi dua gen ini akan merubah triptofan menjadi IAA melalui senyawa indoleacetamide (Kosuge etal., 1966). Kadar IAA tinggi ini akan bersifat toksik terhadap sel-sel biji atau embrio tanaman. Grossniklaus dan Vielle-Calzada, (1999) menggunakan gen regulator yang dapat mengekspresikan senyawa toksik yang mempengaruhi perkembangan embrio atau endosperm. Gen barnase akan menghasilkan enzim ribonuklease pada bagian biji di bawah kontrol promoter spesifik bagian kulit biji. Tetapi pembentukan partenokarpi melalui cara pendekatan ini kurang berhasil dan tidak berkembang, karena hingga kini belum ada data hasil percobaan yang mendukung keberhasilan teknik ini.
Cara pendekatan kedua dalam menghasilkan partenokarpi adalah melalui pengekspresian senyawa fi-tohormon IAA atau analognya pada bagian bakal buah (ovary) terlihat lebih efektif. Cara kedua ini didasari oleh pengetahuan sebelumnya bah-wa aplikasi fitohormon sejenis auksin/giberelin dapat menggantikan peran biji dalam merangsang pembentukan dan perkembangan buah. Tomes et al. (1996a) telah berhasil menginduksi buah partenokarpi melalui penggunaan gen pengkode giberelin, yaitu giberellin 20-oxidase yang diekspresikan pada bagian po-len (serbuk sari) sebelum polinasi (di bawah kontrol promoter spesifik bagian polen). Buah partenokarpi dapat terbentuk sebelum fertilisasi (anthesis). Li (1997) berhasil menggunakan gen pengkode auksin, giberelin atau sitokinin (iaaM, iaaH atau ipt) dari Agrobacterium tumefaciens di bawah kontrol sequen regulator spesifik bagian ovary. Gen iaaM mengkode senyawa triptofan 2-monooxigenase yang akan meru-bah triptofan menjadi indoleaceta-mide (IAM), lalu menjadi indole acetic acid (IAA) dan amonia (Kosuge et al., 1966) menggunakan promoter GH3 dari kedelai (Hagen et al., 1991) atau AGL5 (Agamous-like 5) dari Arabidopsis (Ma et al., 1991) atau PLE36 dari tembakau (Li, 1997). GH3 merupakan promo-ter inducible auksin di bagian ovary, AGL5 spesifik pada perkembangan karpela (Savidge et al., 1995) dan PLE 36 spesifik untuk ovary. Rotino et al. (1997) telah berhasil menggunakan promoter bagian regulator defh9 (deficiens homologue 9) dari Antirrhinum majus untuk mengekspresikan gen iaaM (pengkode IAA) dari Pseudomonas syringae pv savastanoi (Yamada et al., 1985) pada bagian plasenta dan bakal biji. Gen kimerik defh9-iaaM (Gambar 1) ini telah berhasil menginduksi buah partenokarpi pa-da beberapa tanaman dari famili Solanaceae seperti terung, temba-kau, dan tomat (Rotino et al., 1996; 1997; Ficcadenti et al., 1999). Tanaman hibrid (F1) terung yang mengandung gen defh9-iaaM menunjukkan peningkatan produksi pada musim dingin (Dozella et al., 2000). Demikian juga terjadi pada tomat transgenik yang ditanam pa-da kondisi atau cuaca yang kurang menguntungkan bagi perkembangan polen (Acciarri et al., 2000) .
Bahkan saat ini, di Italia sedang dilakukan pengujian lapang untuk tanaman transgenik melon, strawbery, dan anggur. Sehingga gen partenokarpi defh9-iaaM telah berhasil dicoba pada empat famili, yaitu Solanaceae, Cucurbitaceae, Rosaceae, dan Cruciferae. Dari semua tanaman transgenik partenokarpi tersebut ditemukan kadar ekspresi auksin yang sangat rendah pada mRNA yang diekstrak dari kuncup bunga (Rotino et al., 1997; Ficcadenti et al., 1999). Dari hasil percobaan ternyata terdapat faktor penting di dalam pembuatan buah partenokarpi melalui rekayasa genetika, yaitu terletak pada penggunaan bagian regulator (regulator region) dalam konstruksi gen kimera. Bagian regulator merupakan informasi genetik yang sangat penting dalam mengontrol ekspresi gen interest baik secara temporal atau spatial. Dua parameter ini sangat penting dalam mem-peroleh partenokarpi dan meyakin-kan ekspresi yang optimal dari gen partenokarpi tanpa menghambat pertumbuhan vegetatif (buah) pada tanaman transgeniknya. Dengan demikian, semua gen regulator yang digunakan diarahkan ekspresi-nya ke bagian ovary dan bagianbagiannya. Sebagai contoh gen kimera defh9-iaaM (Rotino et al., 1997), bagian regulator defh9 (promoter) dapat mengontrol ekspresi gen iaaM (pengkode IAA) hanya pada bagian plasenta, ovule, dan bagian ovule (Ficcadenti et al., 1999). Ekspresi IAA pada bagian ovule ditujukan untuk menggantikan peran biji dalam memacu pertumbuhan buah, sedangkan ekspresi IAA pada bagian plasenta untuk meyakinkan bahwa partenokarpi terjadi sebelum polinasi (anthesis). Hal ini dimaksudkan untuk membandingkan dengan buah hasil penyerbukan biasa atau aplikasi ZPT. Buah par-tenokarpi tanpa biji dapat terbentuk pada bunga tomat dan terung yang diemaskulasi atau dikastrasi (dihilangkan bagian benang sarinya) ter-lebih dahulu. Sedangkan ekspresi IAA pada bagian jaringan ovule di-maksudkan untuk menjaga kelang-sungan pertumbuhan dan perkembangan buah hingga dewasa. Ekspresi IAA yang sangat rendah diperlukan untuk memperoleh perkembangan buah partenokarpi secara normal, karena apabila ekspresi terlalu tinggi dapat menyebab-kan pertumbuhan yang abnormal (malformation), terutama pada je-nis tanaman yang sensitif terhadap auksin.



C. Beberapa Contoh Pembentukan Buah Partenokarpi
1. Pembentukan buah partenokarpi pada Cabai (Capsicum annum, L)


Tanaman partenokarpi (buah tanpa biji) mempunyai nilai komersial yang tebih, sebab buah biasanya berukuran lebih besar dan dapat menyebabkan bentuk buah yang lebih bagus. Teknik ini dapat meningkatkan produktivitas suatu tanaman, termasuk cabai yang kebutuhannya semakin meningkat sedangkan hasilnya masih tergolong rendah. Salah satu cara memperoleh tanaman partenikarpi buatan adalah dengan cara pemberian hormon. Masalah yang diteliti adalah apakah hormon gibberellin dapat menginduksi tanaman cabai menjadi berbuah partenikarpi dan berapakah konsentrasi efektifnya? Asumsi yang melandasi penelitian ini adalah gibberellin dapat mempengaruhi sifat genetik termasuk pembentukan buah menjadi bersifat partenokarpi, sehingga dengan pemberian gibberellin konsentrasi tertentu dapat menginduksi buah cabai menjadi bersifat partenokarpi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian gibberellin terhadap pembentukan buah partenokarpi pada cabai dan mengetahui konsentrasi efektif yang harus diberikan. Manfaat dari penelitian ini adalah dapat meningkatkan nilai komoditas buah cabai serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat pada umumnya. Penelitian ini dilakukan di Rumah Kaca Laboratorium Biologi Reproduksi FMIPA-UNAIR dan Kelurahan Menur Pumpungan. Sampel penelitian adalah tanaman Cabai yang diberi perlakuan penyemprotan gibberellin dengan konsentrasi 0; 10; 20; 30; 40; 50; 100; dan 200 ppm. Penelitian ini menggunakan disain Rancangan Acak Lengkap. Data yang diperoleh adalah jumlah bunga cabai yang gugur, jumlah dan berat (gr) total buah Cabai yang dihasilkan serta jumlah Cabai yang bersifat partenokarpi dari total produksi buah Cabai pada setiap perlakuan. Analisis statistik yang dipergunakan untuk mengetahui perbedaan rata antar kelompok perlakuan adalah uji F dengan taraf a = 0,05. Jika dalam uji F terdapat perbedaan yang bermakna, maka dilakukan uji lanjutan yaitu BNT (Beda Nyata Terkecil) pada taraf a = 0,05. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penyemprotan Gibberellin (GA3) pada kisaran konsentrasi 0 - 200 ppm belum dapat mengakibatkan terbentuknya buah cabai yang bersifat partenokarpi. Namun penyemprotan gibberellin dapat menurunkan jumlah bunga gugur dan meningkatkan jumlah serta berat total cabai yang dihasilkan. Hasil terbaik didapatkan pada tanaman perlakuan yang disemprot giberellin dengan konsentrasi 100 ppm ( libunair@indo.net.id).
2. Pembentukan buah partenokarpi pada Kurma
Berita kurma berbuah di Indonesia sampai ke telinga para pakar buah. Luar biasa, kejadian itu sangat langka, kata Drs Hendro Soenarjono, mantan peneliti di Kebun Percobaan Cipaku, Bogor. Pendapat itu diamini Dr Reza Tirtawinata MS, direktur Taman Wisata Mekarsari, Cileungsi, Bogor. Bila yang berbuah Phoenix dactylifera itu sangat istimewa. Kurma yang rajin berbuah di Indonesia adalah kurma hias Phoenix roebelenii, tuturnya. Jenis itu tak pernah dikonsumsi, sementara yang ada di kediaman Adi Warsito daging buah tebal karena buah tak berbiji.
Menurut Reza, kurma berbuah di daerah tropis bersifat kasuistis. Artinya, contoh itu tak bisa dijadikan patokan bahwa kurma mampu berbuah di Indonesia. Apalagi untuk ditanam skala komersial. Iklim negeri kita tak mendukung pohon kurma berbuah,ujarnya. Kurma membutuhkan kekeringan ekstrim yang merangsang pembuahan. Reza menduga, letak pohon di antara jalan raya dan bangunan menyebabkan daerah perakaran terisolasi dari air. Maka secara mikro kondisi lingkungan kering, seperti habitat asli kurma. Oleh karena itu, Reza hanya menyarankan penanaman kurma sebatas tanaman hias. Kalau berniat untuk menikmati buahnya bisa kecewa, tutur doktor dari Institut Pertanian Bogor itu.
Itu berbeda dengan pendapat Greg Hambali, pakar botani di Bogor. Fenomena di kediaman Adi Warsito kian mengukuhkan Phoenix dactylifera dapat berbuah di Bumi Pertiwi. Saya pernah mencicipi kurma dari Kupang, Nusa Tenggara Timur, ujarnya. Hanya saja perlu ditelusuri lebih jauh. Lazimnya kurma yang berbuah di tanahair berukuran kecil, paling sebesar ujung ibu jari orang dewasa dan tak berbiji. Sementara di Israel, Trubus menyaksikan kurma segar berukuran hampir sama dengan telur ayam kampung.
Menurut Greg, kurma tanpa biji itu bukan hasil perkawinan bunga jantan dan betina. Buah berasal dari pohon partenokarpi. Artinya, pohon mampu membentuk buah tanpa ada penyerbukan jantan pada betina. Beberapa pohon kurma memang bersifat seperti itu, tergantung genetik bunga betina, kata alumnus University of Birmingham itu.
Secara alami kurma tergolong tanaman berumah dua. Pohon hanya menghasilkan 1 jenis bunga: jantan atau betina. Penyerbukan alami terjadi bila terdapat pohon jantan dan betina di lokasi berdekatan. Menurut Greg, kurma sulit berbuah di Indonesia justru karena penanaman-sebagai tanaman hias-umumnya tunggal. Akibatnya, tak terjadi penyerbukan bunga jantan pada betina.
Lantaran itulah Greg yakin pada penanaman berkelompok peluang kurma berbuah jauh lebih besar. Namun, membutuhkan riset pendukung. Dulu di Kalifornia kurma juga tak berbuah, tapi lihat sekarang. Kalifornia jadi salah satu produsen kurma, ujar kolektor berbagai tanaman buah itu.
Penelusuran Trubus membenarkan pernyataan Greg. Kurma yang diimpor Indonesia umumnya dari Kalifornia. Negara bagian Amerika Serikat beriklim tropis itu membudidayakan kurma secara komersial sejak 1969. Padahal, sampai 1800-an, pohon-pohon kurma di Kalifornia tak pernah berbuah. Penelitian dari Universitas California pada 1905 merekomendasikan penyerbukan dengan lebah. Hasilnya, tanaman menjadi lebih produktif.
Thailand melakukan penelitian serupa. Para pakar di negeri Gajah Putih mencoba mengawinkan bunga betina kurma dengan bunga jantan dari keluarga palem lain. Sebut saja dengan kurma hias Phoenix roebelenii.

Bila penelitian di tanahair benar berjalan, banyak hobiis bersukacita. Koleksi kurma yang biasanya untuk tanaman hias dapat berbuah. Sebut saja Darwis Siagim, hobiis buah-buahan di Pondokbambu, Jakarta Timur, yang mengoleksi belasan pohon kurma. Mantan manajer di Pertamina itu berharap, suatu saat kelak, ia dan anak cucu dapat menikmati kurma dari halaman rumah(Destika Cahyana,2002).

3. Pembentukan buah partenokarpi pada Jambu Biji (Lambo guava)
Jambu biji adalah salah satu tanaman buah jenis perdu, dalam bahasa Inggris disebut Lambo guava. Tanaman ini berasal dari Brazilia Amerika Tengah, menyebar ke Thailand kemudian ke negara Asia lainnya seperti Indonesia. Hingga saat ini telah dibudidayakan dan menyebar luas di daerah-daerah Jawa. Jambu biji sering disebut juga jambu klutuk, jambu siki, atau jambu batu. Jambu tersebut kemudian dilakukan persilangan melalui stek atau okulasi dengan jenis yang lain, sehingga akhirnya mendapatkan hasil yang lebih besar dengan keadaan biji yang lebih sedikit bahkan tidak berbiji yang diberi nama jambu Bangkok karena proses terjadinya dari Bangkok.
Dari sejumlah jenis jambu biji, terdapat beberapa varietas jambu biji yang digemari orang dan dibudidayakan dengan memilih nilai ekonomisnya yang relatif lebih tinggi diantaranya: 1) Jambu sukun (jambu tanpa biji yang tumbuh secara partenokarpi dan bila tumbuh dekat dengan jambu biji akan cenderung berbiji kembali)( http://www.ristek.go.id).
4. Pembentukan buah partenokarpi pada Tanaman Sukun
Tanaman sukun merupakan tanaman hutan yang tingginya mencapai 20 m. Kayunya lunak dan kulit kayu berserat kasar. Semua bagian tanaman bergetah encer. Daun dan batang Daunnya lebar sekali, bercanggap menjari, dan berbulu kasar. Batangnya besar, agak lunak, dan bergetah banyak. Cabangnya banyak, pertumbuhannya cenderung ke atas. Bunga Bunga sukun berkelamin tunggal (bunga betina dan bunga jantan terpisah), tetapi berumah satu. Bunganya keluar dari ketiak daun pada ujung cabang dan ranting. Bunga jantan berbentuk tongkat panjang yang disebut ontel. Bunga betina berbentuk bulat bertangkai pendek (babal) seperti pada nangka. Bunga betina merupakan bunga majemuk sinkarpik seperti pada nangka. Kulit buah menonjol rata sehingga tampak tidak jelas yang merupakan bekas putik dari bunga sinkarpik. Pada buah keluwih, tonjolan pada kulit buah merupakan duri yang lunak. Penyerbukan bunga dibantu oleh angin, sedangkan serangga yang sering berkunjung kurang berperan dalam penyerbukan bunga. Pada buah sukun, walaupun terjadi penyerbukan, pembuahannya mengalami kegagalan sehingga buah yang terbentuk tidak berbiji. Pada keluwih (Artocarpus communis) kedua proses dapat berlangsung normal sehingga buah yang terbentuk berbiji normal dan kulit buah berduri lunak sekali. Duri buah keluwih merupakan bekas tangkai putik bunga majemuk sinkarpik. Buah Buah sukun mirip dengan buah keluwih (timbul). Perbedaannya adalah duri buah sukun tumpul, bahkan hampir tidak tampak pada permukaan buahnya. Selain itu, buah sukun tidak berbiji (partenokarpi). Akar Tanaman sukun mempunyai akar tunggang yang dalam dan akar samping dangkal. Akar samping dapat tumbuh tunas yang sering digunakan untuk bibit.
5. Pembentukan buah partenokarpi pada Tanaman Buah Solok
Dr. I. Djatnika, kepala Balai Penelitian Tanaman Buah Solok, menjelaskan sepatu amora tidak mempunyai bunga jantan dan jantung seperti lazimnya pisang lain. Namun, buah tetap muncul karena ia termasuk partenokarpi, yaitu jenis tanaman yang mampu membentuk buah tanpa memerlukan penyerbukan bunga jantan terhadap bunga betina. Pisang tanpa bunga jantan dan jantung sangat istimewa. Ia akan terbebas dari penyakit utama pisang seperti layu bakteri dan penyakit darah yang ditularkan serangga pengunjung bunga. Layu bakteri disebabkan Ralstonia (Pseudomonas) solanacearum. Ia menjadi kendala produksi di pusat-pusat pertanaman pisang di dunia, termasuk Indonesia. Bakteri lain, bacterial blood disease alias BBD disebut penyakit darah. Gejala kedua penyakit itu sama, yaitu terjadi kelayuan tanaman yang cepat. Jika menyerang tanaman berbuah, gejalanya laten. Buah pisang dari luar tampak mulus, tetapi saat dikupas isinya hitam dan tidak dapat dimakan. Jika buah yang terserang dikocok-kocok, terdengar seperti ada batu di dalamnya. Menurut beberapa pekebun di Sumatera Barat, pisang berpenyakit menyebabkan keracunan jika dimakan hewan seperti sapi atau kambing.
Pada pisang yang memiliki bunga jantan dan jantung, kedua penyakit itu dicegah dengan memberongsong atau memotong jantung pisang. Cara itu direkomendasikan beberapa pakar di dalam atau luar negeri. Akan tetapi, kedua teknik itu kurang diminati masyarakat.
Di Sumatera Barat, pisang yang diberongsong tidak disukai konsumen karena tidak ada bercak-bercak alias mulus. Pisang berkulit mulus dianggap bukan pisang lezat. Pemotongan jantung pisang pun menuai masalah. Pekebun kerap menggunakan pisau untuk memotong jantung pisang sakit pada pisang sehat. Maksud hati mematahkan serangan layu bakteri, apa daya malah menyebarkan penyakit dengan sengaja.
Pisang sepatu amora mempunyai sistem pertahanan alami karena tidak punya jantung. Pengamatan penulis di daerah endemis penyakit layu bakteri, sepatu amora umumnya bertahan hidup. Buah yang dihasilkan normal dan sehat. Sepatu amora yang tanpa bunga jantan dan jantung luput dari kunjungan serangga yang ikut menyebarkan penyakit.
Pada pertemuan perpisangan untuk wilayah Asia Pasifik di Filipina pada 2002, penulis menginformasikan prospek sepatu amora sebagai pilihan pengembangan jenis pisang komersial di wilayah endemik wabah layu bakteri. Informasi itu segera direspons peneliti pisang di dunia. Terbukti informasi itu kembali terungkap pada pertemuan Penyakit Layu Fusarium Pisang di Brasil pada 2003. Disebutkan sepatu amora layak ditanam untuk mengantisipasi serangan penyakit layu pisang di dunia.

D. Kesimpulan
Beberapa pendekatan dan percobaan telah dilakukan dalam rangka pembentukan buah partenokar-pi pada tanaman transgenik. Pem-bentukan buah partenokarpi melalui rekayasa genetika akan dapat menjawab tuntutan konsumen yang menginginkan adanya buah tanpa biji dengan kualitas lebih baik dan produktivitas yang tinggi, khususnya pada tanaman hortikultura yang bernilai tinggi (komersial). Sejalan dengan itu, pendekatan secara molekuler dengan teknik microarray juga dapat digunakan untuk studi pembandingan dan studi perubahan pola ekspresi gen selama perkembangan buah baik pada buah partenokarpi maupun buah normal (hasil pembuahan). Dengan demikian, sintesis fitohormon secara endogen pada bunga atau bakal buah akan dapat terkontrol baik waktu (timing), tempat (lokasi), dan kekuatan (strength) ekspresi serta pengaruhnya bagi per-tumbuhan dan perkembangan buah.


PUSTAKA
Acciarri, N., V. Ferrari, G. Vitelli, N. Ficcadenti, T. Pandolfini, A. Spena, and G.L. Rotino. 2000. Effetto della partenocarpia in ibridi di pomodoro geniticamente modica-ti. Informatore Agrario 4:117-121.

Barg, R. and Y. Salts. 1996. Method for the induction of genetic parthenocarpy in plants. Application No. IL19960117139. Patent No. W09730165.

Dozella, G., A. Spena, and G.L.Rotino. 2000. Transgenic parthenocarpic eggplants: Superiro germplasm for increased winter production. Mol. Breed. 6:79-86.

Ficcadenti, N., S. Sestili, T. Pandolfini, C. Cirillo, G.L. Rotino, and A.Spena. 1999. Genetic engineering of parthenocarpic fruit development
in tomato. Mol. Breed. 5:463-470.

Fitting, H. 1909. Die beeinflussung der Orchideenbluten durch die Bestaubung und durch andere Umstande. Zeitshchrift fuer Botanik 1:1-86.

Gillapsy, G., H. Ben-David, and W.Grulssem. 1993. Fruits: A development perspective. The Plant Cell 5:1439-1451.

Grossniklaus, U. and J.P. Vielle-Calzada. 1999. Seed specific polycomb group gene and methods of use for same. Patent Application Number US19980061769. PN WO9953083.

Gustafson, F.G. 1942. Parthenocarpy: Natural and Artificial. Botanical Review 8:599-654.

Hagen, G., G. Martin, Y. Li, and T.J.Guilfoyle. 1991. Auxin-induced expression of soybean GH3 promoter in transgenic tobacco plants. Plant Mol. Biol. 17(3):567-579.

Jumali Pardal ,Saptowo.2007. Pembentukan Buah Partenokarpi Melalui Rekayasa Genetika. Bogor:Balai Penelitian Bioteknologi Tanaman Pangan

Kihara, H. 1951. Triploid watermelon.Proc. Amer. Soc. Hort. Sci. 58:217-230.

Kosuge, T., M.G. Heskett, and E.E.Wilson. 1966. Microbial synthesis and degradation of the indole-3- acetic acid. J. Biol. Chem. 241:3738-3744.

Lee, T.H., A. Sugiyama, K. Takeno, H.Ohno, and S. Yamaki. 1997. Changes in content of indole-3- acetic acid and activities of sucrose metabolizing enzyme during fruit growth in eggplant (Solanum melongena L.). J. Plant Physiol. 150:292-296.

Li, Y. 1997. Transgenic seedless fruit and methods. Patent Application Number US1997060045725.WO9849888A1.

Ma, H., M.F. Yanofsky, and E.M.Meyerowitz. 1991. AGL1-AGL6, an Arabidopsis gene family with similarity to floral homeotic and transcription factor genes. Genes and Dev. 5:484-495.

Nitsch, J.P. 1950. Growth and morphogenesis of strawberry as related to auxin. Am. J. Botany 37:211-215.

Paddon, C.J. and R.W. Hartley. 1987. Expression of Bacillus amyloliquefaciens extracellular ribonuclease (barnase) in E. coli following an inactivating mutation. Gene 53(1):11-19.

Rotino, G.L., H. Sommer, H. Saedler, and A. Spena. 1996. Methods for producing parthenocarpic or female sterile transgenic plants and methods for enhancing fruit setting and development. Priority Number EPO 96120645.5.

Rotino, G.L., E. Perri, M. Zottini, H.Sommer, and A. Spena. 1997. Genetic engineering of parthenocarpic plants. Nature Biotech. 15:1398-1401.

Savidge, B., S.D. Rounsley, and M.F.Yanofsky. 1995. Temporal relationship between the transcription of two Arabidopsis MADS box genes and the floral organ identity genes. Plant Cell 7(6):721-733.

Schwabe, W.W. and J.J. Mills. 1981. Hormones and parthenocarpic fruit set: A literature survey. Hort. Abstracts 51:661-698.

Sugiharto.1999. Pembentukan buah partenokarpi pada Cabai (Capsicum annum, L)Email: library@lib.unair.ac.id; libunair@indo.net.id; Faculty of Mathematics and Natural Science Airlangga University

Peristiwa Penyerbukan pada Tumbuhan

22.07 Edit This 0 Comments »
Spermatophyta (tumbuhan biji) merupakan kelompok tumbuhan yang menguasai permukaan bumi dari yang berukuran kecil hingga berukuran pohon raksasa. Mengapa tumbuhan ini dapat berkembangbiak dengan pesat diseluruh bioma dengan kondisi iklim yang berbeda? Perlu diketahui bahwa Spermatophyta merupakan salah satu divisi terbesar dari dunia plantae yang terbagi menjadi dua sub divisi yaitu Angiospermae (tumbuhan berbiji tertutup) dan Gymnospermae (tumbuhan berbiji terbuka).
Pada tumbuhan spermatopyta perkembangbiakan terjadi melalui dua peristiwa yaitu penyerbukan dan pembuahan.
Berdasarkan faktor penyebab sampainya serbuk sari pada kepala putik dapat dibedakan menjadi empat macam, yaitu anemogami, hidrogami, zoidiogami dan antropogami.

1. Anemogami

Anemogami adalah sampainya ser buk sari pada kepala putik dengan perantara angin. Umumnya bunga yang penyerbukannya secara anemogami mempunyai kriteria sebagai berikut;
a. struktur bunga sederhana
b. serbuk sari banyak, ringan, kecil, dan kering
c. bunga tidak berbau
d. struktur bunga sederhana, tidak berwarna menarik
e. benang sari bertangkai panjang
f. putik melekat di tengah, membentuk permukaan yang mudah menangkap serbuk sari dengan bentuk spiral atau pensil



2. Hidrogami

Hidrogami adalah sampainya ser buk sari pada kepala putik dengan perantara air. Hidrogami terjadi pada tumbuhan yang hidup di air seperti teratai, eceng gondok dan hydrilla.

3. Zoidiogami

Zoidiogami adalah sampainya ser buk sari pada kepala putik dengan perantara hewan.
a. Entomogami
Entomogami adalah sampainya ser buk sari pada kepala putik dengan perantara serangga. Umumnya bunga yang penyerbukannya secara Entomogami mempunyai kriteria sebagai berikut;
1) bunga menghasilkan madu
2) mahkota berwarna cerah
3) kepala sari bersatu di dasar bunga
4) serbuk sari sedikit, besar, dan lengket
5) putik kecil dan lengket
6) bunga berbau
7) mahkota sebagai landasan terbang serangga

b. Ornitogami
Ornitogami adalah sampainya ser buk sari pada kepala putik dengan perantara burung. Umumnya bunga yang penyerbukannya secara Ornitogami mempunyai kriteria sebagai berikut;
1) bunga mengandung madu dan air
2) kelopak atau mahkota berwarna merah dan besar
3) bunga berbentuk tabung dan sempit

c. Kiropterogami
Kiropterogami adalah sampainya ser buk sari pada kepala putik dengan perantara kelelawar. Umumnya bunga yang penyerbukannya secara Kiropterogami mempunyai kriteria sebagai berikut;
1) bunga berukuran besar
2) bunga terletak di tempat terbuka
3) bunga berwarna cerah
4) bunga mekar di malam hari

d. Malakogami
Zoidiogami adalah sampainya ser buk sari pada kepala putik dengan perantara siput. Umumnya bunga yang penyerbukannya secara Malakogami mempunyai kriteria sebagai berikut;
1) bunga terletak di tempat tersembunyi
2) bunga berbentuk memanjang tanpa mahkota
3) bunga mempunyai putik yang tersembunyi dalam kelopak

4. Antropogami

Antropogami adalah sampainya ser buk sari pada kepala putik dengan perantara manusia. Umumnya bunga yang penyerbukannya secara Antropogami mempunyai kriteria sebagai berikut;
a. bunga tidak dapat melakukan penyerbukan sendiri
b. tanaman tersebut mempunyai nilai ekonomis yang tinggi
c. manusia ingin menghasilkan varietas-varietas baru melalui persilangan buatan

Lembar Kerja Siswa

17.01 Edit This 0 Comments »
Manfaat keanekaragaman hayati di lingkungan sekitar sekolah


Tujuan: Mengenal manfaat hewan dan tumbuhan di lingkungan sekitar sekolah



Alat dan Bahan: 4 patok kayu
Rafia ukuran 20 meter




Cara Kerja:
Siapkan 4 patok kayu dan tali rafia ukuran 5m2!
Pilihlah suatu lahan di sekitar lingkungan sekolahmu, dan buatlah petak dengan patok kayu dan rafia seukuran 5m2!
Amati dan rekam beberapa jenis tumbuhan dan hewan yang masuk dalam wilayah pengamatanmu!
Catat hasil pengamatan dalam tabel pengamatan berikut ini!


Tabel pengamatan:



No :Nama Tumbuhan : Manfaatnya : Nama Hewan : manfaatnya
1.
2.
3.
dst

Kembalilah ke dalam kelas untuk mendiskusikan pertanyaan berikut dan presentasikan hasil diskusimu di depan kelas!

Pertanyaan
Apa manfaat tumbuhan yang ditemukan?
Bagian organ apa dari tumbuhan tersebut dimanfaatkan manusia?
Teknologi apa yang tepat untuk menjadikan tumbuhan tersebut bermanfaat?
Apa pengaruh keberadaan tumbuhan yang diamati bagi lingkungan sekitarmu?


Apa manfaat hewan yang ditemukan?
Bagian organ apa dari hewan tersebut dimanfaatkan manusia?
Teknologi apa yang tepat untuk menjadikan hewan tersebut bermanfaat?
Apa pengaruh keberadaan hewan yang diamati bagi lingkungan sekitarmu?